Anonymous

Bila ada yang paling misterius dalam dunia ini pasti itu adalah pertemuan, sebab kita tidak tau kapan dan dengan siapa kita akan bertemu serta bagaimana pertemuan itu mempengaruhi kehidupan kita. Pertemuan tidak terjadi secara kebetulan tapi merupakan rancangan Tuhan yang telah tercatat di buku-Nya jauh sebelum kita ada. Bisa saja pertemuan itu terasa aneh, tampak dramatis dan tidak kita inginkan namun sebenarnya ia menunjukkan ada the invisible hand yang menguasai manusia, dimana manusia tidak punya wewenang mengubah hal sekecil apapun di dalamnya. Perkara bagaimana kita mengelola pertemuan itu sehingga bisa mencerahkan hidup, itu perkara yang sudah diserahkan Tuhan untuk diurus manusia sendiri.

Pertemuan yang mengesankan bukanlah pertemuan yang panjang dan akhirnya menciptakan persahabatan dengan lika-liku ujian. Pertemuan yang sederhana, kebetulan, sangat singkat dan membekas kadang kala bisa seperti pecahan mozaik terbesar dalam hidup, tak sengaja kita temukan karena Tuhan Yang Maha Pemurah membantu kita menemukannya.

Dan pecahan mozaik terbesar dalam hidupku adalah seorang perempuan muda, cantik dan anonymous. Tak sempat kutanyakan namanya karena pertemuan kami sangat singkat. Tapi justru pertemuan itu yang nanti akan menjadi turning point, titik belok dalam hidupku dan membangun siapa diriku dewasa nanti. Sebab perempuan muda, cantik dan anonymous itu sempat menisbahkan sebuah pesan agung, sederhana saja sebenarnya, namun mengandung daya magis, menghipnotis dan terus bergema dalam keabadian.

 

(Destiny)


Piala Dunia dan Euforia Korporasi

tumblr_n6yge73IRq1r83d7lo5_1280Akibat kekecewaan atas alokasi dana yang sangat besar dari pemerintah untuk penyelenggaraan Piala Dunia, rangkaian aksi protes dari masyarakat -yang menggabungkan diri dalam gerakan anti FIFA dan Piala Dunia- masih terjadi di kota-kota besar Brazil seperti Sao Paolo, Porto Alegre dan Rio de Janeiro.

Tidak kurang dari US$ 11,5 milyar pemerintah Brazil mengganggarkan dana untuk pembangungan sarana-prasarana seperti stadion, bandara, transportasi perkotaan dan perbaikan infrastruktur. Sepertiga dari anggaran tersebut digunakan untuk membangun stadion baru dan renovasi stadion yang ada di dua belas kota. US$ 1,9 milyar dialokasikan untuk mengamankan berlangsungnya turnamen dengan menurunkan 150 ribu tentara, 20 ribu petugas keamanan sewaan dan 170 ribu pekerja umum.

Dana sebesar itu dirasa sangat berlebihan untuk membangun sarana-prasarana yang hanya digunakan untuk satu bulan. Pemerintah Brazil dinilai telah kehilangan prioritas ditengah kondisi kemiskinan ekstrem yang menimpa masyarakatnya.

Demonstran juga mengendus aroma mark up dari proyek piala dunia setelah laporan auditor pemerintah memperlihatkan ada pembengkakan biaya yang besar terutama dalam pembangunan stadion. Dilaporkan biaya pembangungan stadion di Brasilia naik tiga kali lipat menjadi US$ 900 juta dari harga perkiraan awal yang ditentukan pemerintah.

Ini meningkatkan kecurigaan terjadi kolusi antara politisi dan perusahaan kontruksi. Biaya itu dituding mengalir ke partai berkuasa dan partai oposisi untuk kepentingan pemilihan presiden Oktober mendatang.

Lebih dari satu juta masyarakat tumpah di jalanan. Mereka membawa spanduk-spanduk bertuliskan FIFA Go Home, We Need Food not Football. Sebelum upacara pembukaan dimulai, dengan perintah dari pengadilan polisi menggusur rumah-rumah penduduk yang berada di dekat Stadion Marcana sehingga 2000 penduduk kehilangan tempat tinggal. Alasan pemerintah adalah demi modernisasi dan kebutuhan pengamanan. Bentrokan antara petugas keamanan dan demonstran pun tidak bisa dihindari sehingga korban sipil berjatuhan. Kerusuhan terus merambat ke kota-kota lain. Agaknya, lebih sulit bagi pemerintah Brazil menjadi tuan rumah daripada menjadi pemenang tropi.

 

Euforia Korporasi dan Ironisme Kemiskinan

Presiden Dilma Rousseff optimis ajang piala dunia ini akan membantu pemulihan ekonomi Brazil. Namun para ekonom memprediksikan hal sebaliknya. Sejak tahun 2013 hingga menjelang pembukaan piala dunia, ekonomi Brazil terus melambat. Ini disebabkan karena fokus belanja pemerintah tertuju pada event olahraga saja, sementara alokasi pengeluaran yang mampu menstimulus konsumsi rumah tangga diperketat. Inflasi tetap tinggi diatas 6%. Neraca perdagangan kuartal kedua tahun 2014 mengalami defisit dengan penurunan ekspor sebesar 3,3% dan kenaikan impor 1,4%. Industri menyusut dan produktivitas akan terganggu sepanjang piala dunia berlangsung.

Pakar ekonomi Gradual Investimentos, Andre Perfeito menjelaskan, skenario terburuk dari kegiatan besar tersebut adalah terpangkasnya nilai produk domestik bruto Brazil sebesar 0,3%, sehingga pertumbuhan ekonomi diprediksi tidak lebih dari 2%. Ini disebabkan karena pemberlakuan “games day” atau hari libur khusus yang dicanangkan pemerintah saat pertandingan berlangsung sehingga kantor dan pabrik-pabrik di Brazil akan tutup agar karyawan dapat menonton pertandingan.

Tentu ini akan mengganggu produksi dan stabilitas ritel di seluruh Brazil. Sementara dari sisi pariwisata, dilaporkan 20 perusahaan besar menunda perjalanan bisnisnya karena adanya kemungkinan gangguan transportasi udara di bandara.

Pemerintah Brazil harus mengantisipasi akibat dari defisit anggarannya. Belajar dari pengalaman Yunani sebagai penyelenggara Olimpiade Athena 2004, tingginya pengeluaran negara untuk membiayai penyelenggaraan Olimpiade tersebut mengakibatkan Yunani melampaui anggarannya.

Total kredit Yunani membengkak sehingga terjadi booming finansial yang segera merambat ke seluruh Eropa. Eropa goyang. Lalu menuntut Yunani melakukan kebijakan uang ketat dengan memotong anggaran sektor publik dan meningkatkan pajak. Langkah ini justru memancing krisis sosial dan kerusuhan di jalan-jalan besar di Athena.

Padahal saat itu Yunani merupakan negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di Eurozone antara tahun 2000-2007. Lalu bagaimana dengan Brazil yang prestasi ekonominya tidak begitu menawan dan Standar & Poors telah memotong peringkat kredit Brazil akibat perlambatan ekonomi yang terus-menerus? Bukankah berarti Brazil dibayang-bayangi bencana moneter dan krisis sosial yang besar setelah ini? Padahal saat ini saja sepertiga dari penduduk Brazil yakni sekitar 58 juta orang berpenghasilan kurang dari US$ 1/hari, tinggal didaerah-daerah kumuh, malnutrisi, kelaparan, tingkat pengangguran dan kerawanan sosial yang tinggi.

Lalu siapa yang diuntungkan dalam penyelenggaraan Piala Dunia Brazil ini? Tentu saja FIFA dan perusahaan besar yang digandengnya. Kolumnis Forbes Mike Ozanian menganalisis bahwa sedikitnya US$ 4 milyar akan masuk ke kas FIFA. Pendapatan ini terutama datang dari penjualan hak siar TV, dana sponsor dan penjualan tiket. Pendapatan ini  66% lebih tinggi dari total pendapatan yang dihasilkan Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan.

Salah satu keuntungan besar itu berasal dari penjualan hak siar TV kepada Eurovision yang mencapai US$ 1.7 miliar.

Sejak adanya peningkatan penyiaran lewat TV yang terjadi pada akhir era 90-an, manfaat ekonomi dari piala dunia pun ikut bertambah. Dari hak siar TV piala dunia tahun 2002 dan 2006, FIFA telah berhasil memperoleh penjualan total US$ 2 milyar. Dibandingkan dengan penjualan hak siar TV untuk 3 kali Piala Dunia di era 90-an kepada European Broadcasting Union, angka itu baru mencapai US$ 310 juta.

Piala dunia telah meningkatkan pendapatan FIFA hingga 11 kali lipat sejak tahun 1998. Bahkan, belum usai piala dunia Brazil, FIFA telah melakukan pelelangan hak siar TV berbahasa Inggris untuk piala dunia 2018 di Rusia dan 2022 di Qatar. Hak siar jatuh kepada Fox Sport yang berhasil mengalahkan harga lelang ESPN dan NBC.

Dana sponsor yang masuk ke kas FIFA juga tidak kecil. Korporasi-korporasi besar pemilik merek dagang Adidas, Coca Cola, Sony, Emirates, Hyundai Motor Co. VISA dan sebagainya telah menyumbang US$ 1.35 milyar ke kas FIFA. Oleh sebab itu, FIFA mendesak pemerintah Brazil untuk memberikan pembebasan pajak dan kegiatan komersil selama piala dunia berlangsung termasuk meminta untuk membuat beberapa undang-undang yang mengizinkan penjualan minuman beralkohol yang diproduksi perusahaan-perusahaan sponsor.

 

Dominasi Korporatisme

Merupakan keniscayaan sistem kapitalisme memprioritaskan kepentingan kelompok-kelompok korporasi. Seringkali kedaulatan sebuah negara tunduk pada kepentingan kelompok korporasi ini. Sebab, dalam pandangan kapitalisme negara adalah sekumpulan lembaga ekonomi dan pemerintah merupakan lembaga ekonomi kecil yang statusnya dipersamakan dengan swasta. Sementara perusahaan-perusahaan merupakan lembaga ekonomi utama yang menguasai ekonomi negara.

Dari sinilah, maka segala sesuatunya harus disesuaikan dengan paham korporatisme, yaitu bahwa pemerintah adalah salah satu lembaga negara yang khusus dan tugas utamanya adalah menjalankan kekuasaan. Pemerintah menjalankan kekuasaan tapi tidak memiliki kekuasaan tersebut. Sementara lembaga- lembaga lain menguasai negara tapi tidak menjalankan kekuasaan. ***


One Wing Bird

Mencari seseorang yang berkualifikasi di semua bidang dalam sebuah tim, tim apapun itu, sebaiknya dilupakan saja. Meski klise, ‘no body perfect’ adalah fakta yang tidak terbantahkan. Allah tidak pernah menciptakan manusia yang sempurna. Kita selalu lebih disini dan kurang disitu. Oleh karena itu, hal fundamental dalam manajemen sumber daya manusia adalah menerima perbedaan dan mentransformasinya menjadi kekayaan.

Meminjam analogi Luciano de Crescendo, setiap kita adalah burung bersayap sebelah. Sehebat apapun kita, meski terus belajar, berjuang, berdoa dan bermeditasi, kita tetap hanya akan memiliki sebelah sayap. Kita akan mampu terbang hanya kalau mau berpelukan erat dengan yang lain. Keyakinan berlebihan bahwa kita bisa go ahead tanpa bantuan orang lain akan membuat kita bernasib sama dengan seekor burung bersayap sebelah namun memaksa diri untuk terbang.

Di dalam perusahaan misalnya, tidak pernah kita temui pemimpin berhasil tanpa kemampuan bekerja sama dengan karyawan. Di keluarga, tidak pernah kita temukan keluarga bahagia tanpa kesediaan berpelukan dengan anggota keluarga yang lain. Bahkan sosok Nelson Mandela dan Kim Dae Jung bahkan mau berpelukan dengan orang yang dulu pernah menyiksanya.

Apalagi kalau kegiatan berpelukan ini dilakukan dengan penuh cinta. Itu tidak hanya akan mentransformasi kegagalan menjadi keberhasilan, namun juga membuat segalanya menjadi menyenangkan. []


Surat Untuk Aulia Dini (part 6)

indexHallo, Dini. Assalamualaikum. Apa kabar? Sombong sekali tidak pernah lagi mampir ke mimpiku. Bahagiakan kamu?

Beberapa hari lalu aku melintas di depan rumahmu. Awalnya tidak ada niat lewat dan mampir kesana, sampai aku mendengar lagu kesukaanmu -entah darimana dan tiba-tiba saja. Kuputuskan untuk singgah. Dan seperti biasa mama menyambut, memelukku lalu menangis. Ah, suasana biru seperti inilah yang selalu kuhindari. Ternyata saat itu, Mama benar-benar merindukanmu, Din. Ia sedang membuat jus pokat kesukaanmu. Satu ceret. Padahal tidak ada siapa-siapa di rumah. Lalu aku jadi curiga, jangan-jangan kamu yang  menggerakkanku mampir ke rumahmu untuk menghabiskan semua jus pokat itu?:/

Hampir dua tahun aku tidak mengunjungi rumahmu. Aih, bukan lantaran sibuk, Din. Hanya sok sibuk. Tapi semuanya kulihat masih sama. Aroma parfum di kamarmu yang kosong, potret kelakar kita di bangku ayunan di halaman, potret dirimu yang tidak sabaran mengajari Amir rumus phytagoras, TV, meja makan bahkan vas bunga. Semuanya tetap sama. Mama sengaja tidak mendekor ulang.

Setiap kali aku kesana, Mama selalu bercerita hal yang sama, berulang-ulang. Sampai aku hapal detailnya. Ramadhan 2008, di meja makan kamu meminta Mama menyediakan kursi dan piring kosong untuk kawan-kawan barumu, setelah shalat kamu seperti sedang mengajar, menasehati kawan-kawan barumu untuk rajin mengaji, jalan raya yang kosong kamu lihat sebagai taman yang indah. Mata apa yang kamu pakai, Din? Sampai-sampai kami tidak bisa melihat taman indah dan kawan-kawan barumu itu? Dan malam itu, pukul 2 pagi, setelah tahajjud, dua jam sebelum sahur, kamu pamit tidur. Seperti kebiasaanmu sebelum tidur kamu berkata, “Allah, Dini tidur dulu ya..”

Dan itulah awal spasi yang panjang diantara kita.

Retno sudah menikah, Din. Dengan Son Goku senpai-mu. Ia istri yang baik. Sudah kukatakan padanya tidak apa-apa, tapi ia terus merasa bersalah. Ia merasa berkhianat. Ah, padahal aku yakin sebenarnya kamu berterima kasih padanya kan, Din? Pernah suatu kali kami bercerita tentang masalah ini. Lalu pelan-pelan ia menangis, perasaan bersalahnya terlalu dalam. Aku tak mampu mengobatinya. Sekarang aku tidak pernah lagi ingin membahas masalah itu, bahkan membahas dirimu dengannya!

Jadi, setiap kali aku merindukanmu, Din, merindukan momen anak-anak Phindy, aku ga tau harus membaginya dengan siapa. Indah semakin sibuk. Sulit menemukan waktu untuk bertemu. Mungkin tahun depan dia akan diangkat menjadi bagian dari Middle Management atau Executive Financing Officer di sebuah bank swasta nasional. Minggu lalu ibunya yang baik hati itu meninggal dunia. Menyusul Kak Riris. Sakitnya komplikasi. Kami lupa dikabari. Allahummagfirlaha warhamha.

Azura Mioko lagi diklat accounting di Jakarta. Ia sedang membangun karir di lembaga keuangan non bank berbasis syariah. Sedangkan Heditia masih di Jogja. Resolusi sederhananya yang dulu hanya ingin menjadi guru madrasah sore, mengajari anak-anak belajar Iqra’, nyebrang jadi jurnalis profesional. Sekarang ia berstatus sebagai reporter ulung di Jawa Pos. Seandainya kamu masih ada, Din, kamu pasti jadi ahli hukum yang adil. Habis kamu galak sih.. suka nyubit lagi. hehehe.

Lalu aku?

Hahaha…. Aku ya gini-gini aja, Din. Masih blingsatan mencari diriku sendiri. Tapi tenang, I enjoy my life and living in my best.

Benar-benar kangen Dini. Kangen anak-anak Phindy. Bahkan kangen rival-rival kita, Cikalis and the Kid. Hahaha… All of you had completed me. Build myself. Show my way. Thank you for caring :]. Tentang Cikalis, sepertinya mereka masih eksis, tapi ya udah ga pernah perform lagi. Udah gantung acapela. Klub kepenulisan kita juga masih eksis. Ga nyangka masih terus bertahan, padahal di awal engap-engap karena harus swadana. Uga dan Amir juga sudah dewasa. They are growing up well. Be more handsome. Persis kamu yang cantik. Semakin santun dan shalih.

Over all, lagu yang tiba-tiba aku dengar kemarin itu, lagu kesukaan Retno juga, Din. Lagu kalian berdua. Aku kutip liriknya ya, “aku yang pernah engkau kuatkan, aku yang pernah engkau bangkitkan, mungkinkah kau akan kembali, menemaniku menulis lagi..” []

 

Ada yang datang, ada yang pergi, ada juga yang ingin kembali. Pematangsiantar, 31 Jan 2014, 03.00 am.


Redenominasi: Efisiensi Fiat Money?

Tahun 2014 pemerintah kembali menunda rencana redenominasi rupiah akibat masih rentannya ekonomi global. Redenominasi rupiah adalah kebijakan Bank Indonesia untuk memangkas tiga angka nol pada mata uang rupiah tanpa mengurangi nilai tukarnya. Langkah ini diambil untuk mengatasi inefisiensi nilai nominal uang yang semakin tinggi akibat tergerus inflasi. Saat ini, uang Rp 100.000 menjadi pecahan uang kertas terbesar kedua di dunia setelah 500.000 dongwan Vietnam. Ini dirasa sangat tidak efisien baik dalam transaksi harian maupun pembukuan. Sehingga, setelah diredenominasi uang Rp 100.000 akan setara nilai tukarnya dengan Rp 100.Uang Rp 1.000 setara dengan Rp 1.

Namun, belakangan sudah berkembang rumor bahwa banyak kalangan menolak keras rencana redenominasi ini. Mereka antara lain:

  • Sastrawan keberatan kalau sajak Chairil Anwar yang berbunyi “aku ingin hidup seribu tahun lagi” diganti menjadi :”aku ingin hidup satu tahun lagi”.
  • Para da’i sejuta ummat tidak mau diganti menjadi “da’i seribu ummat”.
  • Biolog tidak setuju kalau binatang kaki seribu diganti menjadi binatang kaki satu.
  • Titiek Puspa keberatan kalau lirik lagu “jatuh cinta sejuta rasanya” diganti jadi hanya “seribu rasanya”.
  • Para artis tidak setuju acara malam sejuta bintang dikurangi jadi malam seribu bintang.
  • Para jutawan tidak mau disebut “ribuwan”.
  • Teks pidato yang berisi ungkapan “beribu-ribu maaf” sulit diubah jadi “bersatu-satu maaf”.
  • Abu Nawas-pun keberatan kalau cerita Seribu Satu Malam diubah jadi “Satu Malam”.
  • Bupati Kepulauan Seribu keberatan kalau menjadi Bupati Kepulauan Satu.
  • Marga Pasaribu keberatan menjadi Marga Pasatu.
  • Ahli bahasa tidak setuju kalau ungkapan “mengambil langkah seribu” menjadi “mengambil langkah satu”, atau “seribu janji” menjadi “satu janji”.
  • Matematikawan akan bingung karena 1 km = 1.000 m berubah menjadi 1 km = 1 m

redonominasi-rupiahHehehe, it’s just a joke. Overall, redenominasi menjadi bukti tambahan inefisiensi sistem fiat money. Perbedaan nilai nominal dan nilai intrinsik menunjukkan ketidakadilan mata uang. Berbeda bila kita menggunakan sistem emas dan perak. 1 dinar tidak akan berubah menjadi 0,0001 dinar. Dinar (emas) dan dirham (perak) memiliki puchasing power dan simplifikasi unit account yang stabil. Kandungannya tetap sama yaitu emas 22 karat seberat 4,25 gram. Negara mana yang saat ini menggunakan sistem mata uang emas dan perak? Jawabnya adalah Israel. Maka dari itu, Israel jarang sekali terdengar ekonominya dihantam krisis ekonomi. []


Ilusi MDGs dan Peningkatan Kesehatan Kaum Ibu

saving_lives_mothers_childrenSalah satu problematika yang masih menghantui kaum ibu saat ini adalah tingginya tingkat angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB). Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) mencatat AKI tahun 2007 sebesar 228/100.000 kelahiran, meningkat menjadi 359/100.000 pada 2012. Sedangkan kematian bayi (usia 0-11 bulan) sebesar 34/100 ribu kelahiran. Sedangkan WHO mencatat AKI Indonesia mencapai 450/100.00 kelahiran. Wilayah yang paling rentan dengan kematian ibu adalah wilayah Indonesia Timur. Di Papua AKI per 100.000 kelahiran mencapai 620 kasus, Papua Barat (573), Maluku Utara (387) dan Sulawesi Tengah (379). UNICEF memperkirakan bahwa sekitar 10.000 wanita di Indonesia meninggal setiap tahun karena masalah dalam kehamilan dan persalinan dan 150.000 anak meninggal sebelum usia lima tahun. Besaran angka itu menobatkan Indonesia sebagai negara dengan AKI tertinggi se-Asia Tenggara.

Sesuai kesepakatan dalam deklarasi MDGs (Milenium Development Goals), Indonesia terus didorong untuk menekan AKI dan AKB ini sehingga pada tahun 2015, AKI maksimal 102/100.000 kelahiran dan AKB hanya 23/100.000 kelahiran. Secara global, PBB dan lembaga-lembaga internasional telah mendesign berbagai program untuk menekan angka kematian ibu dan anak dan diimplentasikan ke negara-negara yang terikat kesepakatan MDGs.

Mulai tahun 2010 PBB telah meluncurkan Strategi Global untuk Kesehatan Perempuan dan Anak-anak yang bertujuan untuk memperbanyak bidan terlatih, akses terhadap kontrasepsi dan perawatan melahirkan terampil, pencegahan penyakit menular dan pendidikan masyarakat yang lebih kuat. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan telah menggulirkan semisal Rencana Aksi Nasional Percepatan Penurunan Angka Kematian Ibu yang diluncurkan September 2013 silam, program Jampersal, sister hospital dan safe motherhood programme.

Namun, upaya yang ditempuh untuk menekan AKI dan AKB masih jauh panggang dari api. Langkah pemerintah dinilai belum efektif karena berfokus pada tindak penanganan bukan pencegahan. Melemahnya peran pos pelayanan terpadu dan pusat kesehatan masyarakat (puskesmas), kuantitas dan kualitas tenaga kesehatan serta berbagai infrasturktur medis yang minim dan belum merambah sampai ke pelosok desa merupakan faktor-faktor yang menyebabkan tingkat AKI dan AKB tinggi.

Selain itu, faktor perbaikan gizi masyarakat terutama pada ibu hamil sepertinya luput dari perhatian. Padahal, terpenuhinya kebutuhan nutrisi ibu hamil merupakan faktor paling penting agar ibu dan bayi selamat dalam persalinan. Ibu hamil dari kalangan keluarga miskin beresiko lebih besar gagal dalam persalinan karena cakupan nutrisi yang minim dan sempitnya akses terhadap fasilitas-fasilitas kesehatan. UNICEF menjelaskan bahwa disparitas antara masyarakat dan kelompok sosial-ekonomi dalam sektor kesehatan di Indonesia terlihat sangat jelas. Tingkat kematian balita di kalangan keluarga miskin lebih besar tiga kali lipat dibandingkan keluarga kaya. 85% ibu-ibu miskin dengan tingkat pendidikan rendah di desa-desa terpencil melahirkan dengan fasilitas kampung bukan dengan fasilitas medis.

Perbaikan gizi dan peningkatan kualitas kesehatan memang merupakan mimpi bagi kaum miskin. Sebab pemerintah sangat abai terhadap kualitas hidup masyarakatnya. Ini bisa dilihat dari besaran alokasi dana kesehatan dalam APBN. UU No. 36 Tahun 2009 tentang kesehatan hanya memberi porsi minimal 5% untuk anggaran kesehatan dari total APBN. Pemerintah lebih suka meningkatkan porsi pembayaran utang luar negeri sebesar 20% APBN setiap tahun anggaran. Bahkan pemerintah tidak pernah benar-benar merealisasikan porsi 5% itu. Alokasi anggaran kesehatan RI tahun 2012 dan 2013 hanya 2,1%, menurun dari tahun 2011 yang persentasenya sebesar 2,2%.

Dengan demikian, anggaran kesehatan di Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan dengan sejumlah negara low income country. 22 dari 36 negara berkategori low income country (dengan PDB perkapita dibawah US$ 1.025) telah mengalokasikan 11% anggarannya untuk sektor kesehatan. Bahkan, tiga negara berpendapatan rendah di Afrika (Rwanda, Tanzania dan Liberia) telah berani mengalokasikan dana sektor kesehatan hingga 16%.

Di tengah komitmen untuk menekan tingkat AKI dan AKB, yang terjadi di negeri ini justru sektor kesehatan semakin diliberalisasi, investasi asing sektor kesehatan semakin massif digalakkan dan kapitalisasi kesehatan masyarakat makin tampak dengan hadirnya program BPJS dan SJSN.  

Secara global pun, langkah-langkah yang ditempuh PBB dan lembaga-lembaga internasional belum berhasil menekan tingginya AKI dan AKB. Setiap dua menit di suatu tempat di dunia, seorang perempuan meninggal akibat komplikasi kehamilan dan kemungkinan bayinya yang baru lahir untuk bertahan hidup sangat kecil. Pada setiap wanita yang meninggal, 20-30% menderita masalah yang signifikan dan kadang-kadang seumur hidup karena kehamilan mereka.

Untuk mencapai target MDGs terkait dengan mengurangi tiga per empat angka kematian ibu dan anak  hingga tahun 2015, WHO merancang sejumlah langkah konkret diantaranya adalah memperluas cakupan imunisasi, memenuhi kebutuhan gizi anak-anak dunia untuk mengurangi angka malnutrisi, memperbanyak tenaga kesehatan terampil,  memperbaiki sarana dan prasarana sanitasi lingkungan serta menyediakan suplai air minum bersih dan sehat.

Namun, terjadi tumpang tindih antara kebijakan dan sistem. Target-target tersebut justru dilaksanakan dengan mesin kapitalisme yang bekerja untuk menghilangkan subsidi-subsidi publik, meminimalisir peran negara dan mengkapitalisasi sektor-sektor vital dalam masyarakat. Bagaimana mungkin kualitas kesehatan kaum ibu dan anak-anak bisa ditingkatkan tetapi akses terhadap fasilitas kesehatan semakin sempit karena swastanisasi sektor kesehatan? Bagaimana mungkin masyarakat dapat mengakses air minum bersih dan sehat sementara pengubahan status air dari public goods  menjadi private goods gencar dilaksanakan? Bagaimana mungkin sebuah negara mampu membangun infrastruktur kesehatan dengan mengalokasikan anggaran yang besar  jika sumber pendapatan negara hanya mengandalkan pos pajak dan pos utang, sementara sumber-sumber alam diserahkan ke korporasi-korporasi raksasa? []


Efektivitas Paket Kebijakan Ekonomi Jilid II

Rupiah kembali runtuh ke levelimages psikologis Rp 12.000 per US$ setelah current acccount kembali mencatat nilai defisit. IHSG melemah dan terjadi kenaikan permintaan dolar AS yang signifikan di pasar uang. Current account diproyeksikan akan berada di kisaran 3,3-3,7% hingga akhir tahun yang mengindikasikan ekonomi Indonesia berada di zona kuning karena normal defisit inflasi berada pada kisaran 2%.
Untuk lolos dari kondisi ini, pemerintah kembali merumuskan dua paket kebijakan lanjutan guna mengatasi defisit transaksi berjalan yang kian melebar setelah menelurkan empat kebijakan pada Agustus. Dua paket kebijakan itu berkaitan dengan pengendalian neraca dagang melalui pos ekspor dan impor.

Di bidang ekspor, pemerintah mengeluarkan ketentuan mengenai Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE) dengan harapan bisa memperkuat daya saing sektor industri dan mendorong kinerja ekspor. Melalui fasilitas KITE, perusahaan akan mendapatkan kemudahan prosedural, pelayanan pengawasan dan perizinan dalam pengembalian bahan baku yang diimpor untuk produksi dengan tujuan ekspor. Termasuk adanya insentif untuk industri barang antara (intermediate goods).

Sementara di bidang impor, pemerintah memberlakukan kenaikan tarif PPh pasal 22 dari 2,5% menjadi 7,5% atas komoditas impor tertentu untuk mengendalikan total impor.

Komoditas yang jadi sasaran kenaikan tarif ini adalah 502 jenis barang impor meliputi barang elektronik dan telepon seluler, kendaraan bermotor kecuali kendaraan listrik dan kendaraan berpenumpang lebih dari sepuluh penumpang, tas, baju, alas kaki dan perhiasan, termasuk parfum, furnitur dan perlengkapan rumah tangga. Dengan kenaikan tarif pajak ini, sekaligus penerapan fasilitas KITE, diharapkan impor bisa ditekan dan industri dalam negeri akan terangsang untuk meningkatkan produksi barang sebagai substitusi impor barang.

Namun, langkah ini dinilai para ekonom tidak menyentuh esensi, impact-nya sangat kecil dan terlalu berorientasi jangka pendek. Kebijakan tersebut tidak mampu mengubah profil neraca perdagangan dari negatif menjadi positif. Kebijakan yang digelontorkan pemerintah sudah terlalu banyak sehingga tidak fokus, tumpang tindih dan bersifat tambal sulam diikuti pula dengan ketidakkonsistenan menjalankan kebijakan yang telah dirumuskan.

Untuk pos impor misalnya, defisit neraca dagang terbesar justru berasal dari impor bahan bakar minyak (BBM). Neraca migas menjadi penyumbang utama defisit karena total impornya masih sangat tinggi. Totalnya pada September 2013 tidak kurang dari US$ 3,6 miliar. Sedangkan impor 502 jenis barang yang jadi sasaran PPh pasal 22 itu porsinya tidak begitu besar. Belum mengingat sebagian konsumen Indonesia mengidap demonstration effect pada barang-barang yang bersifat elastis. Artinya, semakin tinggi harga produk-produk lux justru semakin menggelitik konsumen untuk membelinya. Sehingga, kenaikan tarif produk-produk tersebut sangat kecil impact-nya untuk menurunkan total impor.

Tapi bukan berarti pula pemerintah mengalihkan kenaikan tarif ini ke pos migas. Minyak dan gas merupakan komoditas vital bagi masyarakat baik konsumsi individu maupun konsumi industri, sehingga wajar saja konsumsi migas masyarakat masih sangat tinggi. Pemerintah harus mengupayakan ketersediaan pasokan aman migas bagi kebutuhan domestik. Program-program penghematan bahan bakar yang bertujuan untuk menurunkan konsumsi minyak dengan melakukan pemangkasan subsidi BBM adalah bentuk lain dari pragmatisme kebijakan ekonomi kita.

Justru, yang harus dilakukan pemerintah adalah memaksimalkan potensi pengelolaan minyak mentah. Saat ini 70% persen pertambangan migas malah dikelola oleh asing. Bila seluruh potensi itu dikelola pemerintah, pemerintah bisa bebas dari ketergantungan impor migas dan mampu menyediakan pasokan migas bagi industri yang muaranya adalah tumbuhnya iklim bisnis domestik. Sekarang bergantung pada political will pemerintah.

Selain itu, pos impor pada sektor non migas didominasi impor bahan-bahan pangan. Indonesia paling rajin impor sembako. BPS melaporkan Indonesia masih mengimpor 29 komoditas utama pangan seberat 13,43 miliar kg dengan total nilai menembus US$ 6,75 miliar dalam kurun waktu Januari-September 2013. Biji gandum dan meslin memiliki andil paling tinggi dengan total US$ 1,82 miliar berasal dari Australia, Kanada, Amerika Serikat, India, dan Ukraina. Disusul impor terbesar kedua, gula tebu dengan total US$ 1,25 miliar.

Ketergantungan Indonesia pada produk pangan impor kian hari kian meningkat. Hampir seluruh komoditas pangan diimpor seperti beras, jagung, daging, kedelai, gula, biji gandum, dan lain-lain. Tentu ini ironi bagi sebuah negeri agraris. Menjadi ironi pula bagi sebuah negeri kelautan bila garam pun masih harus diimpor. Kondisi ini terjadi tentu karena minimnya dukungan pemerintah terhadap sektor pertanian. Padahal lebih dari 30% tenaga kerja Indonesia bergerak di bidang pertanian dengan luas lahan sebesar 82,71% dari seluruh luas lahan (indonesia.go.id). Karena itu macetnya produksi pangan berefek ganda, yaitu inflasi dan kerugian pada petani lokal.

Di sisi ekspor, fasilitas KITE tidak meng-cover bagaimana agar industri bisa mengakses bahan baku utama dan bahan baku penolong murah sehingga menghindari produksi berbiaya tinggi, keringanan pajak, insentif dan subsidi produksi. KITE lebih ditujukan untuk menarik investor asing dengan harapan capital inflow mampu menstimulus aktivitas produksi. Padahal faktanya, peningkatan investasi asing sering kali merupakan kedok baru bagi imperialisme di bidang ekonomi.

Quo Vadis
Paket-paket yang dirumuskan pemerintah selama ini lebih banyak merupakan respon atas kondisi ekonomi global. Ekonomi Indonesia terombang-ambing di tengah ketidakstabilan ekonomi dunia. Dalam penyusunan APBN – misalnya – salah satu asumsi penyusunan anggaran penerimaan adalah nilai tukar rupiah terhadap US$. Bila nilai tukar rupiah terhadap US$ tersebut berfluktuasi tajam, maka APBN akan mengalami koreksi yang dalam. Ini menunjukkan ekonomi Indonesia berada di bawah bayang-bayang negara lain. Padahal, bila saja kita mau melepaskan diri dari ketergantungan tersebut, ada sistem ekonomi lain yang mandiri dan kokoh secara fundamental.

Ekonomi Islam merupakan ekonomi yang bebas dari intervensi negara lain karena tegak di atas instrumen fundamental yang kokoh yaitu sistem kurs emas dan perak, tidak menerapkan pasar derivatif dan perbankan ribawi yang bekerja seperti jaring-jaring sawah. Ekonomi Islam akan menciptakan sistem bisnis yang kondusif dengan berbagai mekanisme yang telah ditentukan sehingga kegiatan ekonomi akan berputar dengan sehat dan menciptakan pembangungan ekonomi yang progresif. Kebutuhan domestik diprioritaskan sehingga masyarakat bisa mudah mengakses berbagai kebutuhan individu maupun kebutuhan produksinya.

Namun, sistem ekonomi merupakan bagian integral dari sebuah ideologi. Ekonomi kapitalistik merupakan bagian integral dari ideologi kapitalisme. Begitu pula sistem ekonomi Islam merupakan bagian integral dari ideologi Islam. []


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 900 pengikut lainnya